Ruuah

Kata ‘Ru’uyah sesungguhnya memiliki dua pengertian yaitu “melihat dengan mata” atau “melihat dengan pikiran”.

Mayoritas mengartikan kata tersebut secara literal yaitu “melihat dengan mata”. Argumen mereka adalah hadits tersebut menggunakan kata dasar Ro’aa yang artinya melihat dengan mata secara jasmaniah. Jika hal ini ditafsirkan “mengetahui”, maka redaksi hadits tidak perlu seperti itu. Cukup dengan menggunakan kata ‘alima. (Copy Paste dari Bachrul Ulum 🙂 ).

Saya tidak membahas argumen di atas secara panjang lebar, karena memang sudah banyak yang mengkajinya.Yang ingin saya ketengahkan adalah apa alasan mereka yang memilih arti sebagai “melihat dengan pikiran” atau dengan kata lain dengan “pengamatan”.

Untuk sampai kepada kesimpulan seperti itu, mereka menunjukkan beberapa fakta pergerakan bulan di dalam al-Qur’an.

1. Surat ke 36 yaitu Ya Sin ayat 39

Surat Yasin ini begitu populer dalam masyarakat Indonesia. Salah satu ayatnya yaitu ayat ke-39 berbunyi:

“And the moon – We have determined for it phases, until it returns [appearing] like the old date stalk.”

2. Surat Yunus ayat 5

It is He who made the sun a shining light and the moon a derived light and determined for it phases – that you may know the number of years and account [of time]. Allah has not created this except in truth. He details the signs for a people who know

3. Surat Ar-Raĥmān (55)  ayat 5

The sun and the moon [move] by precise calculation,

 

 

 

Advertisements