Seberapa Jauh Anda Memahami Qadar dan Qadhaa’?

Sudah puluhan tahun kita hidup, tapi banyak di antara kita yang gamang dengan konsep Qadar dan Qadhaa’. Padahal ini adalah dasar dari Rukun Iman dan terkait rapat dengan aqidah kita sendiri. Tidak heran banyak orang yang tidak sengaja tergelincir aqidahnya, gara-gara tidak memahami topik ini dengan baik.

Contoh Kasus

Kasus 1 – Pada suatu hari anda membaca berita bunuh diri di sebuah pasaraya. Seorang pemuda loncat dari tingkat lima, langsung menghunjam ke bawah dengan kepala duluan menyentuh lantai. Tidak ayal si pemuda langsung tewas seketika. Orangtuanya menerima dengan pasrah kematian si pemuda tersebut sambil berkata, “Kalau Allah menaqdirkan dia mati bunuh diri, apa yang bisa kita katakan lagi”. Tapi betulkah Allah menaqdirkan si pemuda untuk bunuh diri? Bukankah orang yang mati bunuh diri itu tempatnya adalah di neraka?

Kasus 2 – Di sebuah harian nasional, Bibit mengatakan, di usia 68 tahun saat ini, ia hanya berserah kepada Tuhan atas apa yang dia alami. Ia menyebut dirinya hanya sebagai wayang yang digerakan Tuhan sebagai dalangnya. “Ada yg tersembunyi di balik cobaan ini,” kata Bibit tentang kasus dugaan pemerasan yang masih belum jelas penyelesaiannya. Apakah Bibit mencoba melemparkan tanggung jawab kepada Allah, ketika sebuah masalah sedang menimpanya?

Kasus 3 – Ada juga komentar dari seorang non-Muslim yang menyatakan keheranannya dengan kata-kata berikut ini: If Allah guides whom he wills, then it’s not really somebody’s fault that they are not Muslim or not a good Muslim…. ???? . Kasihankan mereka yang terlahir sebagai non-Muslim, karena tanpa mereka sadari akhir hidup nantinya tetap berakhir di neraka.

Kasus 4 – Atau bagaimana dengan kasus seperti ini ketika ada seorang penyanyi sexy memenangkan lomba menyanyi di TV. Ketika menerima hadiah, si penyanyi itu berucap, Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah yang telah membuat saya sukses sehingga mampu berdiri di atas pentas ini untuk menerima hadiah. Masak Allah redha dengan klaim si penyanyi tersebut?

Game Programmer

Bayangkan anda seorang game programmer. Ketika anda hendak membuat sebuah game, anda akan memastikan bahwa semua elemen yang pemain lihat atau tidak perlu diprogram. Contohnya seperti environment, NPCs, Player(s), dsb. Semuanya mempunyai hukum yang mengatur setiap aspek yang berkaitan. Di dalam sebuah game, misalnya saja game The Elder Scrolls IV: Oblivion, pemain dapat memilih untuk melakukan sesuatu secara berbeda. Si pemain dapat menjadi karakter yang sangat jahat dengan melakukan perbuatan setan, menjadi sangat baik, atau malah berada di antara kedua karakter tersebut. Si pemain dapat membentuk karakternya sesuka hati. Semua kemungkinan pilihan atau gerakan si pemain telah diprogram sebelumnya. Jadi si programmer sebenarnya mengetahui apa yang bakalan terjadi terhadap si pemain. Apa yang pemain lakukan tergantung dari pengalamannya sendiri. Apa yang pemain A lakukan bisa sangat berbeda dengan apa yang pemain B lakukan. Saya menggunakan contoh game programmer di atas untuk memudahkan pemahaman terhadap Iradah (Kehendak) Allah. Tentu saja contoh itu tidak bisa disamakan dengan kemampuan Allah yang sebenarnya.
Pemahaman Terhadapa Iradah Allah

Iradah Allah dibagi kedalam dua bagian: Iradah Kauniyah dan Iradah Syar’iyah.

1. Iradah Kauniyah

Iradah Kauniyah adalah kehendak Allah dalam menghendaki sesuatu yang pasti akan terjadi. Tapi tidak berarti apa yang akan terjadi itu Allah suka atau redha. Mengapa pula Allah menghendaki sesuatu yang Allah tidak redha? Jawabannya adalah Allah mengizinkan suatu kejadian berlaku sebagai ujian kepada manusia atau karena hikmah-hikmah lain yang tidak kita ketahui. Contohnya:

– Allah tidak redha dengan judi, tapi mengizinkannya terjadi.
– Allah tidak redha dengan bunuh diri, tapi mengizinkannya terjadi.
– Allah mengizinkan adanya mukmin dan kafir.
– Allah tidak redha dengan pembunuhan, tetapi mengizinkannya terjadi.
– Allah tidak redha dengan kejahatan, tetapi mengizinkannya terjadi.

Gambar di bawah menunjukkan berbagai macam skenario kehidupan si Polan yang mungkin telah Allah tetapkan di Lauh Mahfuz. Akan tetapi Allah tidak memaksakan skenario ini terjadi kepada si Polan. Kemana akhir hidup si Polan tergantung dari pilihan-pilihan yang dibuat olehnya. Apakah ini berarti Allah redha pada bunuh diri ataupun judi yang mungkin bakal dilakukan oleh si Polan? Tentu saja tidak. Allah membiarkan cetakan (blueprint) ini seperti apa adanya untuk menguji si Polan.

Kalau seluruh kisah hidup kita telah tertulis di Lauh Mahfuz, tidakkah ini berarti bahwa kita hanya menjalankan taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah?

Memang betul segala perjalanan hidup yang anda pilih sendiri telah terekam di Lauh Mahfuz. Ini merupakan rekaman apa yang anda akan pilih selama hidup. Apa yang perlu diherankan? Allah memiliki kemampuan untuk melihat masa depan hamba-hamba Nya. Sehingga Allah pun sudah tahu kesudahan hamba-hamba Nya. Dalam contoh di atas, tentu saja Allah sudah tahu pilihan-pilihan hidup yang dibuat si Polan dan bagaimana akhir hidup si Polan.

Kembali kepada beberapa contoh kasus di atas. Si pemuda yang bunuh diri itu bukan karena Allah yang menginginkannya, tapi itu karena Allah mengizinkan kejadian bunuh diri itu terjadi. Sedangkan orang yang mengatakan bahwa dia hanyalah wayang yang digerakkan oleh Allah, orang ini sebenarnya mengambil pemikiran golongan Jabariyah (pre-destined).

Golongan Jabariyah adalah golongan yang tidak meyakini bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mempengaruhi takdirnya dan menentukan pilihannya sendiri. Menurut mereka, segala yang diperbuat oleh manusia dikendalikan oleh Allah. Dengan kata lain manusia adalah robot. Jadi kalau manusia berbuat sebuah kesalahan, kesalahan itu tidak layak ditimpakan kepada manusia, tapi timpakan kepada yang mengendalikannya. Berbahaya bukan jalan pemikiran mereka?

Orang-orang yang berpahaman Jabariyah ini tidak saja ada di dalam agama Islam, tetapi juga di dalam agama-agama lain. Tidak heran sampai ada yang mengatakan bahwa agama penghambat kemajuan ekonomi, karena terkait dengan ajarannya yang bersifat fatalistik, mengutamakan kepasrahan dan kesederhanaan.

Bagaimana dengan orang-orang yang dilahirkan sebagai non-Muslim? Untuk non-Muslim, tentulah mereka ada jalur tersendiri. Mereka memiliki jalur hidayah untuk kembali kepada Islam. Kemudian orang kafir itu hendaklah memiliki kemauan atau iradah untuk beriman. Kalau mereka tidak memiliki kemauan untuk beriman, sampai berbuih-buih mulut anda menjelaskan tentang kebaikan Islam, tetap saja orang kafir itu tidak mau kembali ke Islam.

Oleh sebab itu RasuluLlah saw tidak dipersalahkan dengan keengganan pamannya Abu Talib, kerana baginda telah berusaha. Abu Talib tidak berminat kepada hidayah. Begitu juga Nuh a.s, baginda tidak bisa dipersalahkan dengan keengganan anak-anak dan isterinya yang memilih kufur daripada iman. Padahal Nuh telah berusaha keras untuk menjadikan mereka muslim.

Sebaliknya kalau ada kemauan untuk beriman, walaupun berita-berita yang diterima mengenai Islam adalah berita-berita negatif semuanya, ini tidak menghalangi orang kafir itu untuk terus mencari kebenaran mengenai Islam. Merekapun sampai berdoa kepada Tuhan agar ditunjukkan kebenaran tersebut. Allah akan mendengar permohonan mereka yang bebanr-benar ikhlas dan menunjukkan jalan hidayah kepada mereka. Jalan hidayah itu bisa saja berbelit-belit, bisa saja sangat sederhana. Jadi tidak heran kalan di negara-negara barat, ada grafik peningkatan orang-orang yang masuk Islam.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara kita selalu berada di dalam jalan yang diredhai oleh Allah? Bagaimana cara kita supaya tidak terjerumus ke jalan-jalan yang salah. Jawabannya adalah dengan memahami kehendak Allah yang kedua yaitu Iradah Syar’iyah.

2. Iradah Syar’iyah

Iradah Syar’iyah adalah kehendak Allah yang diberitahukan kepada hamba-Nya untuk dijadikan sebagai panduan di dalam kehidupan. Ia adalah apa saja yang bisa ditemui di dalam al-Quran dan sunnah yang membawa kepada keredhaan Allah. Namun ia belum tentu terjadi.

Kembali lagi kepada contoh kehidupan si Polan. Allah telah menetapkan bahwa bunuh diri termasuk taqdir si Polan yang merupakan kehendak Kauniyah Allah. Tapi si Polan sendiri tidak tahu bahwa bunuh diri tersebut adalah salah satu taqdirnya. Dengan demikian belum tentu si Polan akan melakukan bunuh diri. Itu semua tergantung kepada pilihan hidup si Polan nantinya.

Katakan pada suatu saat si Polan tidak lulus UMPTN. Dia menjadi sangat stress dan memiliki keinginan bunuh diri. Untungnya si Polan pernah membaca al-Quran dan sunnah yang jelas-jelas mengatakan bahwa orang yang bunuh diri itu akan berakhir di neraka. Akhirnya si Polan membatalkan niat bunuh diri tersebut, dan sebagai gantinya dia memulai usaha wiraswasta. Itulah Iradah Syar’iyah Allah terhadap si Polan. Walaupun Allah telah menetapkan bunuh diri di salah satu jalan kehidupan si Polan, Allah lebih redha kalau si Polan tidak melakukan hal tersebut. Ini adalah ujian yang diberikan oleh Allah kepada si Polan.

Contoh-contoh lain adalah:

Jodoh, jumlah rezeki yang akan diterima, ajal, semuanya telah ditetapkan di Lauz Mahfuz sebagai kehendak Kauniyah Allah, seperti:

– Allah bisa saja memilih jodoh kita dengan orang yang Dia tidak suka,
– orang kafir bisa saja dapat rezeki haram walaupun Allah tidak suka, atau
– Allah bisa saja memanjangkan umur orang yang jahat,

tetapi kehendak Syar’iyah Allah yang menyuruh kita supaya:

– memilih jodoh yang baik berdasarkan agama,
– mencari rezeki yang halal, atau
– berobat apabila sakit.

*
Kalau kita memiliki hak untuk memilih jalan hidup dan mempengaruhi takdir, apa ini tidak berarti kita jatuh ke dalam golongan Muktazilah dan “positive thinkers”? Tunggu dulu! Apa itu golongan Muktazillah? Golongan ini berpendapat bahwa manusia mutlak mengontrol takdirnya. Walaupun Allah menciptakan manusia dan alam semesta, Allah tidak ada hak untuk menentukan jalan hidup manusia. Manusialah sendiri yang berhak menentukan jalan hidupnya. Manusia itu sendiri yang menciptakan perbuatan buruk yang sesuai dengan keinginannya. Golongan ini juga dikenali dengan sebutan Qadariyah. Sebenarnya mereka mengingkari taqdir, bukan meyakininya.

Bagi Muktazillah, Allah tidak membuat taqdir untuk seseorang sama sekali, alias kotak kosong. Manusialah yang akan melukis isinya. Contoh dari golongan Muktazillah ini adalah ketika si Polan lulus UMPTN, si Polan mengaku bahwa itu semua hasil kerja kerasnya sendiri, tanpa ada bantuan dari Allah sedikitpun. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah si Polan bisa lulus UMPTN karena Allah menyediakan taqdir untuk lulus UMPTN.

*
Akhirnya sampai juga kita ke golongan ketiga atau golongan pertengahan (moderat). Golongan ini mengakui bahwa Allah sudah menetapkan taqdir untuk mereka. Tapi apakah taqdir itu akan terpenuhi atau tidak tergantung dari usaha mereka sendiri dan tentu saja dengan keizinan dari Allah. Golongan ini disebut dengan Ahli Sunnah wa al-Jamaah atau Mazhab Al-Muhaqqiqin dari ulama’ al-Sunnah.

Dalam contoh si Polan, izin Allah maksudnya Allah sudah menentukan taqdir untuk lulus UMPTN bagi si Polan di Lauh Mahfuz . Seandainya Allah tidak mengizinkan si Polan untuk lulus UMPTN, atau dengan kata lain taqdir si Polan untuk lulus tidak terdapat di Lauh Mahfuz, maka gambar taqdir si Polan adalah seperti di bawah ini.

Jadi kalau Allah tidak mengizinkan, sekuat apapun si Polan belajar, tetap saja dia tidak lulus. Bisa jadi kertas ujiannya hilang di tempat penyimpanan, atau si Polan lupa menulis namanya sendiri di kertas ujian tersebut, atau skenario-skenario lainnya yang membuat si Polan tidak lulus.

Jadi sebagai Ahli Sunnah wa al-Jamaah, respon si Polan kalau lulus ujian UMPTN adalah dengan mengucapkan Alhamdulillah, karena si Polan tahu semua itu terlaksana karena adanya izin dari Allah. Kalaupun tidak lulus, maka yang bisa kita lakukan adalah bersabar dan berbaik sangka kepada Allah. Berusaha lebih baik lagi ditambah dengan do’a yang lebih kuat dan ikhlas. Silakan dibaca pautan berikut ini untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk mendapatkan taqdir yang baik.

Bagaimana Mendapatkan Taqdir Baik

Akhirnya sampai juga ke penghujung tulisan. Sebagai kesimpulan, menurut golongan pertengahan ini:

  1. Pengetahuan Allah sudah berlaku dari awal hingga akhir.
  2. Allah memberikan hak kepada hamba-Nya untuk memilih (Allah berhak membantu atau tidak), tetapi mereka akan bertanggung jawab atas pilihannya tersebut
  3. Allah mengetahui apa yang akan dipilih oleh hamba-Nya termasuk bagaimana hasilnya, tetapi Allah tidak ikut campur dalam urusan pemilihan tersebut

Panjang sekali tulisan saya kali ini. Mudah-mudahan anda akan mendapatkan manfaatnya. Sebelum menutup tulisan ini, silakan dibaca hadits di bawah ini.

Umar r.a yang bertanya Nabi s.a.w tentang amalan dengan mengatakan: “Apakah pandanganmu tentang amalan (manusia) yang dilakukan, adakah ia sudah ditetapkan sebelumnya atau baru terjadi? Maka dijawab oleh baginda dengan bersabda: Sesungguhnya segala sesuatu telah pun ditetapkan pada setiap perkara. Lalu dibalas oleh Umar: Kalau begitu, adakah kita harus menyerah saja? Baginda bersabda: Beramallah wahai anak al-Khattab. Segala sesuatu itu sudah dimudahkan. Barang siapa yang tergolong di kalangan ahli kebaikan (syurga), maka dia dijadikan beramal dengan amalan ahli syurga dan sesiapa yang tergolong dalam ahli seksa, maka dia dijadikan beramal jahat untuk ke neraka.”- Hadis sahih riwayat Ahmad, jil. 1, hal. 29).

Catatan tambahan – Saya terinspirasi menulis topik berat ini setelah membaca sebuah diskusi di sebuah forum berbahasa Melayu – Memahami Persoalan takdir dan Kehendak Allah Jgn Salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s